Arsitektur Masjid dan Pengertiannya

Masjid merupakan bangunan, gedung atau lingkungan yang berpagar yang dibangun khusus untuk tempat beribadah kepada Allah SWT, khusus untuk mengerjakan shalat.

Masjid Pengertian
Istilah masjid berasal dari kata sajada, yasjudu yang berarti bersujud atau menyembah. Karena masjid adalah Baitullah (rumah Allah), maka orang yang memasukinya disunahkan mengerjakan salat Masjid Tahyatul (menghormati masjid) dua rakaat. Nabi SAW bersabda:

“Jika salah seorang kamu memindahkan masjid dengan dulu duduk sebelum mengerjakan salat dua rakaat” (HR. Abu Dawud).

Kata masjid (bentuk mufrad atau tunggal) dan masajid (bentuk jamak) banyak tersedia dalam Al-Qur’an, antara lain dalam ayat-ayat berikut:

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (bertemu) masjid …” (QS. 7:31);

“Dan siapakah yang lebih pantas daripada orang-orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah di masjid-masjid-Nya dan berusaha untuk merobohkannya? …” (QS. 2: 114);

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (untuk berkomunikasi) selain untuk Allah …” (QS. 9:18); dan

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di samping di samping (menyembah) Allah ”(QS. 72:18)

Komponen Masjid

Masjid memiliki banyak komponen, yaitu kubah, menara, mihrab, mimbar, dan beduk.

1. Kubah merupakan salah satu bagian bangunan masjid yang muncul kemudian, berbentuk bulat atau setengah bulatan, dan dibuat untuk menutup bangunan dasar yang berbentuk bundar atau bersegi banyak. Kubah di masjid ada yang besar dan ada yang kecil.

Ada arsitektur masjid yang memiliki satu kubah dan afa pula yang memiliki beberapa kubah, di setuju sebuah kubah besar dengan disetujui oleh kubah-kubah kecil. Bentuknya ada yang bundar dan ada pula yang oval.

2. Menara merupakan salah satu bangunan yang mendampingi bangunan merupakan masjid. Menara bukan hanya menambah keanggunan dan keindahan bangunan masjid, tetapi juga sebagai tempat mengumandangkan azan yang dilakukan oleh muazin.

Jumlah menara pada setiap masjid berbeda, hanya ada satu buah, dua, empat atau lima buah menara. Bentuknya ada yang bundar, persegi empat atau lebih, dan ada pula menara yang bertingkat. Ujung menara pun beragam bentuknya, ada yang berbentuk empat persegi, kerucut, bentuk ceret, lembing, belimbing, dan lain-lain. Letaknya ada yang menyatu dengan bangunan induk dan ada pula yang terpisah.

3. Mihrab merupakan sebuah ruangan atau relung di dalam masjid yang terletak di depan, menjalankan tempat imam di dalam shalat berjamaah dan sebagai petunjuk arah kiblat. Ukurannya ada yang kecil dan ada pula yang besar. Bentuknya di bagian depan juga bermacam-macam dan biasanya penuh dengan hiasan.

4. Mimbar merupakan tempat khatib berkhotbah yang dibuat dari kayu dan pualam serta ditempatkan di sisi kanan mihrab.

5. Beduk yaitu sejenis gendang besar dan panjang, dibuat dati pohon kayu pilihan dengan panjang 2 M atau lebih. Bentuknya silinder atau cembung simetris. Mulutnya ada yang memisahkan selembar membran di satu sisi atau kedua sisinya dengan lembaran kulit. Dari segi fungsi, beduk merupakan pasangan menara.

Jika beduk ditabuh untuk memberi tahu umat Islam tentang masuknya waktu shalat, maka selanjutnya akan dikumandangkan suara azan yang memgambil tempat di menara.

Hiasan pada Masjid

Tapal Kuda.

Tiang-tiang masjid juga bermacam-macam.

Ada yang bulat dan ada pula yang persegi.

Ada yang terbuat dari kayu, ada pula yang terbuat dari beton dan besi.

Hiasan bagian dalam dan luar dominan pada kubah, menara, mihrab, mimbar, dinding, tiang, pintu, jendela, lantai, dan gapura yang sangat beragam, terdiri dari seni ukir.

Hiasan masjid di Indonesia terdiri dari ukiran dengan motif geometris dan kaligrafi. Bagian-bagian bidang kutub dengan ukiran dengan motif ilmu ukur dan motif perlambang. Bagian dinding ruangan mihrab tidak dibiarkan polos, ada yang menggunakan motif geometris, kaligrafi Arab, dam sebagainya.

Fungsi Masjid

Selain digunakan untuk shalat lima waktu, shalat Jum’at, shalat tarawih, dan ibadah-ibadah lainnya, masjid juga digunakan untuk kegiatan syiar Islam, pendidikan agama, pengajian, dan kegiatan lain yang juga sosial sosial.

Di Indonesia, di daerah pedesaan masjid mengerjakan tempat untuk melaksanakan ibadah shalat, belajar membaca al-Qur’an untuk anak-anak, dan memperingati hari-hari besar Islam.

Di daerah perkotaan, selain fungsi tersebut, masjid juga digunakan untuk tempat pembinaan generasi muda Islam, ceramah dan diskusi keagamaan, dan perpustakaan.

Bentuk Bangunan Arsitektur Masjid

Masjid di Indonesia Masjid-masjid di Indonesia pada umumnya pengatapannya berbentuk limas dan bertingkat. Ada yang tidak memakai kubah (misalnya, masjid-masjid tua di Jawa) dan ada pula yang memakai kubah (misalnya, masjid-masjid di Sumatra).

Ada pula yang beratap datar dengan kubah di bagian ruangan shalat, seperti arsitektur Masjid Istiqlal di Jakarta. Corak, bentuk, dan komponen-komponen bangunan masjid di Indonesia ada yang diperuntukkan oleh bangunan senior Indonesia-Hindu dan Jawa serta ada pula yang merancang gaya bangunan Timur Tengah, Persia, India, dan Eropa.

Pengaruh bangunan tua Indonesia-Hindu dan Jawa sangat tampak pada bentuk dan konstruksi arsitektur masjid-masjid tua, seperti Masjid Menara Kudus, Masjid Agung Demak, Masjid Agung Banten, Masjid Agung Surabaya, Masjid Agung Cirebon, dan Masjid Agung Yogyakarta.

Bangunan masjid yang dibangun oleh bangunan gaya Timur Tengah, Persia, India, dan Eropa dibangun pada masjid-masjid yang didirikan kemudian atau masjid-masjid yang dibangun dengan menambah atau menambah bangunan-bangunan tertentu.

Bangunan arsitektur masjid-masjid tua di Indonesia memiliki ruangan persegi sangkar atau persegi panjang gantung joglo. Bangunan luar tampak tertutup dengan atap berbentuk limas tunggal atau bersusun yang biasanya diputar ganjil. Pada bangunan masjid seperti ini terdapat tiang tiang yang disebut tiang tiang di tengah yang disebut sokoguru yang menopang atap limas yang disebut brunjung.

Bangunan arsitektur masjid-masjid tua yang dibuat dari zaman para wali dan kesultanan dibuat dari konstruksi kayu. Lantai dasar terbuat dari batu bata atau adukan semen sebagai tempat meletakkan tiang-tiang yang berdiri di atas landasan yang disebut umpak. Ukuran dan hiasannya beragam.

Hubungan antara sokoguru dan balok atas serta atas atap membentuk jalinan konstruksi dengan sistem peletakan yang sudah lama dikenal dalam arsitektur kayu di Jawa. Sejalan dengan perkembangan zaman, corak dan bentuk bangunan masjid-masjid di Indonesia juga mengalami perkembangan dan perubahan.

Perubahan ini tampak pada masjid-masjid tua yang direhabilitasi dengan menambah bangunan baru atau dengan mengganti bahan bangunan lama. Beberapa masjid yang mendapat bangunan antara lain Masjid Agung Banten, Masjid Menara Kudus, Masjid Agung Surakarta, Masjid Sumenep Madura, dan Masjid Jami Padang panjang dan Tanah datar serta Masjid Sarik dekat Bukit tinggi, Sumatra Barat.

Di samping memberikan atau mengganti bangunan di masjid-masjid lama, ada pula masjid-masjid di Indonesia yang menampilkan corak yang batu sama sekali. Misalnya, Masjid Raya Medan dan Masjid Baiturrahman Banda Aceh yang mengikuyi gaya bangunan masjid-masjid di India.

Setelah zaman kemerdekaan muncul pula masjid-masjid model baru, seperti Masjid Raya Makasar, Masjid Syuhada Yogyakarta, Masjid Agung al-Azhar Jakarta, Masjid Istiqlal Jakarta, dan Masjid Salman di lingkungan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menggunakan teknologi baru sesuai permintaan ilmiah sebagai dasar pertimbangan untuk menentukan desain. Namun demikian, di Indonesia belum dikenal gaya Indonesia

Add Comment