Cara Mengolah Sawah Untuk Menanam Padi

Bertani merupakan suatu kegiatan bercocok tanam dalam hal ini dibutuhkan ketelitian mulai dari pengolahan lahan, penggunaan pupuk dan pestisida hingga cara mengatasi serangan atau gejala penyakit yang terdapat pada tanaman.

Faktor Yang Perlu Diperhatikan

  • Ketersediaan air
  • Waktu tanam perlu serempak agar sesuai dengan pola di wilayah setempat
  • Tekstur dan jenis tanah.

Sebagai contoh pada tanah dengan tekstur berat (contoh: jenis grumusol), tanah akan cepat berlumpur begitu terkena air. Pengolahan lahan dalam keadaan basah dimulai dengan penggenangan air selama 5 sampai 7 hari supaya tanah menjadi gembur, idealnya lahan digenangi air dengan tinggi genangan setinggi mata kaki.

Tujuan Pengolahan Lahan

  • Mencegah pertumbuhan tanaman lain yang tidak dikehendaki. Dalam pengolahan lahan gulma dibenangkan dalam tanah sampai mati supaya tidak menimbulkan persaingan dalam pertumbuhan padi.
  • Mencampur bahan organik dengan tanah. Bahan organik bisa berasal dari jerami, sisa tanaman, kompos, kotoran hewan dan pupuk hijau.
  • Membuat tanah cepat melumpur sehingga memudahkan untuk menanam bibit padi. Ini diperlukan terutama jika teknik penanaman dilakukan dengan metode tanam pindah.
  • Menciptakan lapisan bawah tanah (tapak bajak) sehingga dapat mengurangi terjadi kehilangan air dan nutrisi.

Langkah Pengolahan Lahan

Memperbaiki dan membentuk pematang sawah (galeng) Pematang atau tanggul yang dibentuk dengan baik berfungsi untuk mempertahankan air, khususnya di daerah yang ketersediaan airnya terbatas. Ukuran pematang yang baik dengan ukuran lebar dengan lebar 30 cm tinggi 30 cm. Pastikan pematang padat, tertutup dengan baik, tanpa retak dan lubang. Hal ini akan meminimalkan kehilangan air melalui rembesan.

Mengairi sawah Lahan sawah digenangi air dengan ketinggian 2 sampai 3 cm selama 7 hari atau sampai tanah sudah cukup lunak dan memungkinkan untuk dibajak.

Pengolahan Tanah Pertama

  • Pengolahan tanah dilakukan dengan menggunakan traktor dengan alat bajak singkal terutama pada lahan-lahan yang banyak terdapat gulma. Pengolahan tanah sebaiknya tidak perlu pembersihan rumput (gulma) baik dengan menggunakan herbisida maupun dengan pembabatan karena akan menambah biaya produksi.
  • Pengolahan tanah dengan bajak singkal dianjurkan hingga kedalaman 15 sampai 20 cm. Dilakukan pada saat tanah jenuh air tidak perlu menunggu air menggenang.
  • Pengolahan tanah sempurna perbandingan lumpur dan air 1 : 1.
  • Selama pengolahan tanah pertama saluran pemasukan dan pengeluaran air ditutup.
  • Penggenangan Sawah Setelah pembajakan pertama, sawah digenangi selama 7 sampai 10 hari untuk melembutkan gumpalan tanah dan membusukkan sisa-sisa tanaman sebelumnya dan bahan organik.
  • Pengolahan tanah ke dua
  • Pembajakan tanah ke dua yang diikuti dengan penggaruan bertujuan untuk melumpurkan tanah. Untuk sawah-sawah yang mempunyai lapisan olah dalam, pengolahan tanah dapat dilakukan langsung dengan penggaruan tanpa pembajakan, terutama pada musim kemarau.
  • Pupuk organik seperti kompos dan pupuk kandang dapat diberikan pada saat pengolahan tanah kedua, yang diharapkan dapat tercampur merata.
  • Hindari pengolahan tanah dalam keadaan kekurangan air karena akan terjadi gumpalan tanah dan tanah menjadi sulit diolah.
  • Untuk mempermudah pengaturan air, buatlah saluran air kecil di sekeliling sawah yang berfungsi sebagai saluran pembawa dan pembuangan air.
  • Meratakan tanah Tanah yang sudah melumpur harus diratakan 2 hari sebelum dilakukan penanaman. Tanah yang diratakan dengan baik dan halus akan memunculkan pertumbuhan tanaman yang seragam, meningkatkan cakupan air dan meningkatkan hasil panen.   Lahan sawah yang dipersiapkan dengan baik mempunyai karakteristik sebagai berikut
  • Tanah dan air tercampur dengan sempurna (melumpur).
  • Gulma, tunggul jerami, telah terbajak di dalam tanah, dan secara menyeluruh telah membusuk sempurna.
  • Tanah melumpur merata.

Add Comment