Nuzulul Quran

Nuzulul Al-Qur’an yang memuat terjemahannya Al-Qur’an (kitab suci agama Islam) adalah istilah yang membahas tentang penggantian penting wahyu Allah yang pertama bagi para nabi dan rasul agama yang terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW.

Dalam pembahasan Nuzulul Qur’an menurut Berbagai Madzab kita telah menemukan itu Al-Qur’an diturunkan ke Baitul Izzah secara langsung

Peringatan turunnya Al-qur’an atau yang lebih dikenal dengan Nuzulul Quran sudah dikenal sedemikian luas dan telah dilaksanakan oleh lapisan masyarakat.

Hal ini patut kita syukuri dan pelihara, karena dengan adanya peringatan nuzulul quran tersebut kita tidak akan kehilangan momentum yang sangat berharga untuk meningkatkan kesadaran kita tentang pentingnya memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Al-qur’an.

Hal itulah yang bisa menjadi pedoman hidup dan menyelamatkan umat islam dari kesesatan dan bencana sesuai dengan hadits rosulullah SAW:

Aku tinggalkan untuk kamu sekalian dua perkara yang tidak akan tersesat selama kamu sekalian berpegangan pada keduanya yaitu kitabullah (Al-qur’an) dan sunnah Rosulullah SAW (al-hadits).

Namun masih sangat sedikit dari kalangan umat islam sendiri yang mampu memahami, menghayati serta mengamalkan isi dari Al-qur’an itu sendiri, sehingga mereka belum bisa merasakan kehadiran Al-qur’an sebagai rahmat untuk dirinya.

Agar kita mampu menerapkan isi dari kandungan al-qur’an itu dalam kehidupan sehari-hari dan tidak tersesat ditengah jalan, maka kita haruslah bisa mengerti dan mengetahui tahapan-tahapan dalam mempelajari dan mengamalkannya. Antara lain:

Meyakini Kebenaran Al-Qur’an (nuzulul quran)

Meyakini dengan sesungguhnya bahwa kitab suci Al-Qur’an yang masih ada hingga sekarang ini masih tetap asli, dan kandungan ajaran yang ada di dalamnya jauh lebih unggul dibanding dengan ajaran manapun yang dibuat oleh manusia.

Dengan pemahaman yang demikian maka Al-Qur’an akan menjadi hakim bagi dirinya, dan setiap pemahaman yang datang dari manusia akan bisa diterima jika sejalan dengan Al-Qur’an.

Meneguhkan hati Rasulullah dan para sahabat

Dakwah Rasulullah pada masa itu sangatlah berat dan penuh dengan celaan, cemoohan, siksaan, bahkan upaya pembunuhan. Wahyu yang turun berupa ayat-ayat suci al-qur’an secara bertahap dari waktu ke waktu meneguhkan hati Rasulullah dalam menapaki jalan yang sulit dan terjal itu.

Ketika kekejaman Quraisy semakin menjadi, melalui Al-Qur’an allah SWT menyuruh rosul dan para sahabat serta pengikut beliau untuk bersabar seraya menceritakan kisah para nabi sebelumnya yang pada akhirnya memperoleh kemenangan dakwah.

Maka, seperti yang dijelaskan Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury dalam Rakhiqul Makhtum, Al-Qur’an menjadi faktor peneguh mengapa kaum muslimin sangat kuat menghadapi cobaan dan tribulasi dakwah dalam periode Makkiyah.

Di era madaniyah, hikmah ini juga terus berlangsung. Ketika hendak menghadapi perang atau kesulitan, Al-Qur’an turun menguatkan Rasulullah dan kaum muslimin generasi pertama.

Penerima Wahyu Berupa Al-Qur’an

Al-Qur’an itu diberikan kepada nabi Muhammad SAW yang memiliki gelar Al-Amin dan sebagai nabi yang ummi. Sebagai mana sejarah menyatakan bahwa rosulullah SAW adalah orang yang terpercaya hingga akhir hayatnya.

Dengan sifatnya yang Al-amin ini tidak mungkin nabi Muhammad SAW memalsukan atau mendustakan Al-Qur’an, bahkan beliau lah yang dipercaya oleh Allah SWT sebagai penjelas dan penafsir Al-Qur’an. Dan kepercayaan yang Allah berikan kepada beliau inilah yang menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang amanah.

Jibril Pengantar Turunnya Al-Qur’an

Kedudukan jibril as sebagai pengantar juga dilengkapi dengan sifat terpercaya. Itulah yang menjadikan jibril as disebut sebagai ruh al-amin. Allah berfirman:

Bahwa mereka (para malaikat) itu tidak pernah sekali-kali berbuat durhaka kepada Allah atas apa yang diperintahkan-Nya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah kepadanya (Q.s Al-Tahmir 66:6)

Dengan sifat dan kepribadian jibril as yang demikian itu, maka tidaklah mungkin jibril berhianat kepada Allah dengan cara tidak menyampaikan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW dan mengubah atau mengurangi sebagiannya atau seluruhnya.

Mengukuhkan bahwa Al-Qur’an benar-benar dari Allah SWT

Ketika Al-Qur’an yang diturun secara berangsur-angsur dalam kurun waktu kurang lebih 22 tahun, yang kemudian menjadi rangkaian yang sangat indah mengandung arti dan penuh makna.

indah dan fasih gaya bahasanya, berhubungan antara satu ayat dengan ayat yang lain bagaikan untaian mutiara, serta ketiadaan pertentangan di dalamnya, yang semakin memperkuat bahwa Al-Qur’an benar-benar kalam ilahi, Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

Tantangan dan Mukjizat

Orang-orang musyrik kala itu yang berada dalam jalan kesesatan tidak henti-hentinya berupaya melemahkan kaum muslimin. Mereka sering mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh dengan maksud melemahkan kaum muslimin.

Pada saat itulah,  Allah menolong kaum muslimin dengan jawaban langsung dari-Nya melalui wahyu berupa al-qur’an yang turun. Selain itu, Al-Qur’an juga menantang langsung para penyair arab orang-orang kafir untuk membuat sesuatu yang semisal dengan Al-Qur’an.

Walaupun Al-Quran turun berangsur-angsur, tidak seluruhnya, toh mereka tidak mampu menjawab tantangan itu. Ini sekaligus menjadi bukti mukjizat Al-Qur’an yang tak tertandingi oleh siapapun.

Al-Qur’an Disampaikan Secara Mutawatir

Al-Qura’an disampaikan dari generasi kegenerasi secara mutawatir, yaitu diterima dari sejumlah orang dan disampaikan pula kepada orang banyak yang diyakini kejujurannya dan tak satu pun yang menyangkalnya.

Bukti lain tentang kebenaran Al-Qur’an juga bisa dihubungkan dengan mukjizatnya yaitu:

  1. Pemberitaan ghaibnya
  2. Isyarat-isyarat ilmiahnya
  3. Redaksinya

Pemberitaan ghaib yang berkaitan dengan kehidupan akhirat tidaklah mungkin berasal dari manusia ataupun nabi, karena manusia atau nabi juga tidak akan tahu pemberitaan yang ghaib dan juga tidak diberitahukan oleh Allah SWT.

Sedangkan isyarat ilmiah yang diberitahukan oleh Al-Qur’an mengenai sesuatu, misal proses kejadian manusia dengan tahapannya, ternyat terbukti keberadaannya setelah dipelajari dan dicocokkan dengan keadaan yang sebenarnya dalam praktek. Isyarat ini tidaklah mungkin berasal dari nabi yang selama hidupnya tidak mengenal dan berhubungan dengan masalah ilmiah.

Dan jika ditinjau dari segi redaksi atau susunannya sebagai suatu keseluruhan antara satu ayat dengan ayat yang lainnya dan surat dengan surat lainnya. Hal itu tidak mungkin bisa ditiru oleh manusia dan menunnjukkan bahwa Al-Qur’an adalah benar firman Allah SWT.

Turunnya Al-Qur’an (nuzulul quran) menjadi solusi bagi semua masalah politik, ekonomi, agama, budaya, sosial dan lainnya, Al-Qur’an datang sebagai jawaban untuk segala masalah yang terjadi pada seluruh umat manusia.

Muhammad SAW diutus Allah sebagai nabi dan rosul tepat pada saat dunia laksana suatu bangunan yang sedang diguncang oleh gempa yang sangat dahsyat sekali sehingga semua isinya berantakan dan tidak berada di tempat yang semestinya.

Allah SWT berfirman:

Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan yang dilakukan oleh tangan-tngan mereka sendiri, agar sebagian dari yang melakukannya merasakan kepedihannya, agar mereka kembali pada jalan yang benar (Al-Rum 30 : 41)

Jika kita mengkaji (nuzulul quran) ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tauhid maka kita akan menjumpai ayat-ayat yang membicarakan tentang sifat-sifat Tuhan.

Maka bisa disimpulkan jika Allah memiliki sifat maha pengasih, maka manusia juga harus menunjukkan sikap kasih terhadap sesama makhluk sehingga kehadiran manusia tersebut dapat memberi manfaat terhadap lingkungannya.

Begitu juga jika Allah mempunyai sifat Maha Suci maka manusia juga harus berusaha menjaga kesucian dirinya dari sifat-sifat tercela. Dan masih banyak lagi sifat-sifat Allah yang harus kita tanamkan dalam setiap diri pribadi kita masing-masing.

Hikmah turunnya Al-Qur’an (nuzulul quran) adalah untuk mengangkat harkat dan martabat seluruh umat manusia dengan cara membina akhlaknya dengan cara menegakkan ajaran aqidah dan syariah dengan sebaik-baiknya.

Untuk itu setiapkali kita memperingati Nuzulul Quran maka yang harus dipertanyakan adalah seberapa jauh pesan moral dan ajaran Al-Qur’an itu telah kita upayakan melalui pendidikan. Dengan demikian kehidupan umat manusia tidak akan tersesat dan tergelincir ke arah yang buruk.

 

Add Comment