Pengertian Meditasi (Manfaat dan Dampak Negatifnya)

meditasi

isha.sadhguru.org

Meditasi merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan dengna cara berdiam diri dengan tujuan mencari ketenangan jiwa untuk memperoleh kedamaian dan ketentraman yang sejati.

Meditasi sering dilakukan oleh banyak kalangan, mulai dari remaja, dewasa hingga orang tua.
Dengan melakukan meditasi seseorang akan mendapatkat jawaban dari semua persoalan yang sedang dialami dan mampu menyelesaikan dengan cara yang mungkin tidak terduga.

Meditasi merupakan sebuah praktek yang semakin populer dari jaman ke jaman hingga sampai pada masyarakat modern dewasa ini.

Tradisi semedi yang lebih popular dengan sebutan meditasi ini awalnya berasal dari India dan meluas ke penjuru plosok dunia. Hal ini menjadi alternatif penenangan diri bagi masyarakat khususnya di Barat.

Terdapat banyak pemahaman tentang meditasi dari perspektif sains ketika fenomena ini memasuki dunia barat yang rasional.

Karena meditasi sudah menjadi sebuah perilaku maka ada dampak positif, dan ada pula dampak negatifnya.
Berikut ini tinjauan kritis mengenai dampak meditasi bagi manusia, khususnya masyarakat modern.

Tinjauan dasar tentang Meditasi

meditasi

scienceandnonduality.com

Meditasi memiliki begitu banyak variasi. Pada dasarnya meditasi adalah perilaku berdiam diri dalam keadaan posisi tubuh tertentu, umumnya dilakukan dengan duduk bersila dan dalam durasi waktu tertentu yang cukup panjang.

Meditasi memiliki tujuan yang bervariasi namun pada umumnya adalah untuk meningkatkan kualitas diri pelakunya, entah itu kewaspadaan diri, ingin menyatu dengan alam, memperoleh kedamaian diri, upaya penghilangan nafsu, atau menahan diri untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu yang tidak diinginkan.

Tinjauan positif dan negatif berikut tidak dapat dicakupkan atau di globalkan untuk semua meditasi.
Pelaku meditasi harus memahami konteks meditasi jenis apa yang bisa memunculkan dampak positif atau negatif yang dimaksud.

Dampak Positif Meditasi

Meditasi diwariskan dari tradisi agama Buddha, dan saat ini mulai digunakan dalam psikologi Barat untuk mengangkat berbagai kondisi mental dan fisik.

Penelitian ilmiah tentang meditasi umumnya ada dalam naungan psikologi positif. Penelitian telah dilakukan selama 20 hingga 30 tahun dan semakin meningkat dalam dekade terakhir ini.

Tahun 2011, National Center for Complementary and Alternative Medicine (NCCAM) NIH melaporkan bahwa temuan studi dimana citra resonansi magnetik otak dari 16 partisipan 2 minggu sesudah dan setelah bermeditasi yang mengikuti program meditasi diambil oleh para peneliti dari Rumah Sakit Umum Massachusetts, Lembaga Citra Syaraf Bender di Jerman, dan Sekolah Medis Universitas Massachusetts.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa meditasi dapat berdampak pada mekanisme otak yang berasosiasi dengan perbaikan kesehatan mental sipelaku.

Sebuah studi bulan Januari 2011 di jurnal Psychiatry Research: Neuroimaging, berdasarkan pencitraan resonansi magnetik (MRI) dari partisipan Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR), menyatakan bahwa “partisipasi dalam MBSR berasosiasi dengan perubahan konsentrasi materi abu-abu di daerah otak yang bertanggung jawab atas proses belajar dan mengingat, pengaturan emosi, proses referensi diri, dan pengambilan sudut pandang.”

Dampak Negatif Meditasi

Terdapat jenis meditasi khusus yang disebut meditasi disosiatif. Meditasi disosiatif merupakan meditasi yang bertujuan untuk memisahkan individu sebagai pengamat fenomena daripada melibatkan individu ke dalam sebuah aktivitas.

Biasanya meditasi semacam ini disebut meditasi pembebasan dengan maksud dan tujuan untuk membebaskan jiwa sipelaku dari sebuah pengikat, contoh misal nafsu-nafsu jasmaniah dan doktrin-doktrin yang dianggap menjadi belenggu jiwa sipelaku.

Meditasi semacam ini berfokus pada penghapsan ego atau self dan merubahnya menjadi Semesta atau kedirian secara universal.

2000 tahun praktek meditasi semacam ini dilakukan oleh kebanyakan masyarakat India. Praktek spiritual semacam ini telah begitu mengakar sehingga mereka lebih memandang dunia luar hanya sebatas dimana ia ikut campur dalam kehidupan mereka secara langsung.

Hal ini berakibat pada rendahnya kesadaran adanya subjek lain, sampai pada level tertentu seperti hak dan tanggung jawab warga negara secara politik, sebuah mentalitas yang menyulitkan demokrasi dan memudahkan rezim otoriter berkuasa di level masyarakat.

Dalam dunia psikologi, kepribadian semacam ini disebut kepribadian disosiatif. Yaitu gejala dimana seseorang merasa terlepas dari dirinya sendiri.manusia yang berada pada kesadaran ini akan merasakan kalau dirinya atau lingkungannya sebagai sesuatu yang tidak nyata dan tidak penting.

Ia akan merasakan tidak memiliki kontrol atas dirinya sendiri. Yang ada di dalam pikirannya, dunia hanyalah sebuah perasaan atau khayal atau juga panggung sandiwara yang muncul dari dalam dirinya sendiri.

Pertanyaannya

Apakah saya merupakan masalah bagi tubuh ini, atau apakah tubuh ini merupakan masalah bagi saya?
Pada tahapan yang lebih extrim lagi, hal ini akan membawa dampak pada bunuh diri dengan alasan membebaskan diri dari belenggu jasad.

Meditasi disosiatif bukanlah sebuah solusi yang masuk akal untuk menghadapi masalah yang dialami individu di berbagai masyarakat.

Masalah penderitaan sosial yang terjadi di dalam masyarakat adalah masalah yang nyata dan karenanya keterlibatan individu dalam masyarakat sangat dibutuhkan.

Hipoksia

Meditasi biasanya dilakukan di dalam ruangan yang sepi dan seminimal mungkin gangguan suara-suara dari luar.
Kita memejamkan mata sehingga melihat langsung bintik-bintik reseptor cahaya di retina (derau seperti di layar televisi tanpa siaran).

Dengan melakukan tindakan semacam ini, pikiran akan lebih mudah terkontrol dan fokus pada sensasi ketubuhan.
Nafas juga akan diatur sedemikian oleh pikiran (bukannya langsung tanpa sadar oleh otak).

Nafas yang diatur bukan hanya bisa mengalihkan pikiran pada bagaimana bernafas yang baik namun juga dapat membawa pada hipoksia.

Hipoksia merupakan kondisi dimana pasokan oksigen ke otak menjadi rendah. Dalam kondisi hipoksia, pikiran menjadi sangat tenang dan nafas menjadi sangat lembut dan halus.

Semakin rendahnya pasokan oksigen ke otak, aktivitas otak pun semakin menurun. Jika pelaku meditasi merasakan kedamaian di saat itu, maka hal itu bukanlah kedamaian yang sesungguhnya secara psikis namun kedamaian buatan secara biologis.

Berfokus pada nafas dan sensasi diri akan membuat pikiran semakin tenang yang ditandai dengan hipoksia.
Dengan adanya ketenangan pikiran, pelaku meditasi dapat berkonsentrasi pada merasakan sensasi ketubuhan atau inderawi.

Kalau dalam kondisi ini, kita akan merasakan seluruh gerak individual molekul dan atom di tubuh kita sebagai tanda kita mulai mampu memisahkan antara jiwa dan raga.

Hal ini tidak sesungguhnya benar. Sensasi bergetar ketika berada dalam kondisi hipoksia disebabkan oleh kesemutan, hanya saja kesemutan ini berasal dari syaraf di dalam tubuh kita sendiri yang mengalami kekurangan pasokan aliran darah dan oksigen.

Lalu Apa Masalahnya Dengan Hipoksia?

Tentunya ketidaksiapan tubuh kita dalam menghadapi kejutan.

Seperti halnya mata kita yang tertutup lama maka tidak siap menghadapi cahaya terang, begitu juga tubuh kita yang terdiam pada waktu yang lama juga tidak akan siap untuk melakukan gerakan yang secara normal dapat kita lakukan.

Jika hal semacam ini dipaksakan, kita bisa mendapatkan serangan jantung atau setidaknya epilepsi.

Mengganggu Sistem Syaraf Otonom

Reaktivitas otak pada sensasi inderawi merupakan hasil evolusi dalam tubuh kita untuk mempertahankan hidup.
Otak akan segera merespon ketika tubuh merasakan sakit atau panas atau dingin atau kondisi berbahaya lainnya, otak memberi sinyal kepada tubuh supaya bereaksi sedemikian hingga menjauh dari kondisi bahaya tersebut.

Ketika kita bermeditasi dalam postur atau sikon tubuh yang sama terus menerus misalnya, otak kita akan menganggap hal tersebut berbahaya bagi peredaran darah atau menekan beberapa fungsi syaraf penting. Karena alasan ini, otak menyuruh tubuh untuk berganti posisi dari posisi awal.

Tindakan menahan diri dari keinginan untuk berganti posisi dengan alasan melatih diri agar tidak mudah terpengaruh rangsangan dunia luar tubuh menjadi sebuah hal yang sangat berbahaya.

Memang beberapa reaksi tubuh dapat dipandang sebagai reaksi yang berbahaya bagi kehidupan sosial, misalnya marah, takut, egois, nafsu, agresive, stress, hiperaktivitas.

Namun tubuh memiliki sistem otonomnya sendiri yang bekerja dengan otomatis menyesuaikan berbagai banyak komponen syaraf yang mungkin tak diperhitungkan kita ketika membawanya ke ranah sadar.

Ada alasan mengapa detak jantung berada di sistem syaraf otonom bukannya diatur secara sadar oleh kita. Jika hal ini diganggu, bahaya serangan jantung dapat menjadi nyata.

Ketenangan Pikiran

Mungkin anda pernah merasa heran mengapa ketenangan pikiran dinilai sebagai dampak negatif. Hal tersebut memang cukup subjektif namun ketika kita membawanya pada masyarakat modern saat ini, pikiran yang tidak bisa tenang sungguh merupakan hal yang penting.

Pikiran yang tidak tenang bisa ditandai oleh banyaknya ucapan-ucapan saling tumpang tindih di dalam otak.
Dalam sepersekian detik, otak anda memikirkan tentang hal ini, dan sesaat kemudian pindah ke hal yang lain.

Dalam satu menit, anda telah memikirkan banyak hal seperti misalnya masa kecil, kejadian tadi pagi hari, masa datang seperti apa nantinya, dan sebagainya, semua terbaca seperti potongan-potongan halaman dari ratusan buku yang bercerai berai dan disatukan secara acak dalam satu buku besar.

Hal ini juga yang membuat “membaca sebuah pikiran” adalah sebuah tindakan yang hampir mustahil dilakukan oleh orang lain pada seseorang (profesor Xavier dalam X-Men misalnya).

Secara evolusioner, kompleksitas hidup manusia memang menuntut pola berpikir acak demikian.

Otak hanya akan memikirkan apa yang dianggap bernilai. Adanya banyak pikiran acak bermakna ada banyak hal bernilai dalam pikiran yang harus diproses oleh otak. Hal ini akan membawa pada satu kelebihan dari berpikir tidak tenang.

Ia merupakan sumber dari pemikiran yang kreatif. Dari sekian banyak hal tidak berhubungan yang dipikirkan seseorang dalam satu menit akan ada satu hubungan mendadak dan tidak terduga.

Ini merupakan sebuah pemikiran baru dan apabila individu memutuskan untuk memikirkannya lebih jauh, hal tersebut dapat menjadi hal yang mengejutkan (baik ataupun buruk) seperti penemuan solusi baru atas masalah penting atau penemuan ide baru untuk menjadi kaya.

Dalam dunia penuh persaingan di masa modern, pemikiran kreatif sangat dibutuhkan.

Hilangnya Penghargaan Pada Estetika

Dalam kelas meditasi jenis tertentu, pelaku akan menjadi sangat terfokus pada dirinya sendiri. Dunia luar akan menjadi sesuatu yang sekunder. Akibatnya adalah individu menjadi pribadi egois sejati.

Ia tidak memandang pemandangan alam, bintang-bintang, keluarga, seks, tetesan hujan, bunga-bunga, dan deburan ombak sebagai sesuatu yang indah. Mereka itu adalah nafsu.

Pada taraf-taraf tertentu, mereka bahkan akan tiba pada suatu kesimpulan kalau dunia ini hanyalah ilusi dan panggung sandiwara kehidupan.

Walaupun hal tersebut merupakan perdebatan dalam ranah ilmu filsafat, satu hal yang pasti adalah hilangnya sistem nilai yang mengikat kemasyarakatan.

Kesimpulan

Meditasi memiliki manfaat yang cukup baik bagi jiwa manusia, tetapi jika dilakukan tanpa pengertian dan pengetahuan secara mendalam serta tanpa pembimbing yang sudah mempunyai keahlian tentang dan soal Meditasi, hasilnya justru akan menjadi hal yang buruk, bukan hanya berbahaya bagi jiwa namun juga bagi raga.

Beberapa bentuk meditasi bahkan bisa digantikan dengan bentuk penajaman konsentrasi lainnya.

Diperlukan sebuah kebijaksanaan untuk mensikapi segala klaim yang datang dari jasa meditasi agar keinginan kita untuk menjadi lebih baik dapat terfasilitasi dengan benar.

Maka janganlah asal dalam melakukan Meditasi. Kenali dulu jenis Meditasi yang akan Anda pelajari dan Pahami dulu pengertian detilnya, untuk hal ini kita butuh dan perlu Guru/Pembimbing secara langsung.

Add Comment