Riwayat Debat Sedulur Papat Kalima Pancer

Saudara saudariku sekalian yang berbahagia, kali ini kita akan mencoba membahas tentang apa itu Sedulur Papat Kalmia Pancer. Yang mana istilah atau sebutan Sedulur Papat Kalmia Pancer ini sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat khususya dalam tradisi dan adat jawa.

Sedulur Papat Kalmia Pancer

sedulur papat kalima pancer

youtube.com

Saudraku yang terkasih di manapun berada, Ketahuilah Bahwasannya istilah atau sebutan Sedulur Papat Kalima Pancer itu sebenarnya berlaku untuk semua mahluk khususnya manusia hidup.

Istilah Sedulur Papat Kalmia Pancer ini berlaku tanpa peduli latar belakang, suku, adat dan agamanya manusia/manungso tersebut, hanya saja berbeda dalam istilah penyebutannya. Dan jika dikaji secara umum bisa disebut Kawula dan Gusti (kawula gusti).

Istilah populernya Sedulur Papat Kalmia Pancer atau juga disebut Malaikta empat dan rosul, kalau dalam istilah spiritualnya.

Istilah Sedulur Papat Kalmia Pancer

Di dalam sejarah keNabian biasa disebut dengan istilah Jibril. Mika’il. Ijro’il dan Isrofil, sebagai kawulanya, dan Muhammad sebagai gusti nya.

Di dalam sejarah kelahiran bayi dari rahim Ibu yang melahirkannya, di sebut dengan istilah Kakang Kawah. Adi Ari-ari. Puser dan Getih, sebagai kawulanya, dan wujud raga dari si jabang bayinya sebagai gusti.

Di Dalam sejarah keilmuan (tasawuf) biasa disebut dengan istilah Mutmainah. Aluamah. Amarah dan Supiyah, sebagai kawulanya, dan raga yang sedang belajar ilmu itu sebagai gustinya.

Dan masih banyak lagi istilah-istilah lainnya, yang pasti cukup memusingkan isi kepala siapapun jika ingin mengetahui jumlah keseluruhan dari yang namanya Sedulur Papat Kalmia Pancer tersebut.

Dan untuk lebih mudahnya saya pribadi menyebutnya dengan simple yaitu “Kawula Gusti” jika di bahasakan secara umum termasuk bahasa sekolahan di dalam pelajaran tentang anatomi tubuh manusia hidup yaitu Angan-angan. Akal. Budi Pakarti dan panca indera, sebagai sedulur papatnya dan tubuh manusia hidup itu sebagai gustinya. Singkatnya; “Kawula Gusti”

Penciptaan Manusia/Manungso

sedulur papat kalima pancer

efastbook.blogspot.com

pada awal mula kejadian penciptaan manusia pertama kali oleh Tuhan Sedulur papat ini sengaja diberikan atau di bekalkan kepada manusia/manungso sebagai piranti atau alat bantu dan sarana untuk menjalani kehidupan di dunia yang bersifat sementara ini supaya yang di sebut manusia hidup memiliki kemampuan lebih atau ada perbedaan dengan mahluk-mahluk lainnya.

Mungkin saudaraku sekalian pernah mengetahui cerita tentang penciptaan manusia pertama kali yaitu Nabi Adam.

Pada awalnya wujud atau raga nabi Adam yang diciptakan dari tanah itu setelah terbentuk menjadi wujud atau raga Manusia Adam dalam kadaan tergeletak tak berdaya tanpa nyawa.

Kemudian Tuhan mengambil empat inti dari alam. Yaitu; Air. Angin. Api dan Sari Bumi, yang lebih di kenal dalam bahasa keilmunya, sebagai empat anasir.

Dan kemudian masing-masing dari empat anasir tersebut di cipta menjadi roh lalu dimasukan ke dalam wujud atau raga Adam sebagai pelengkap sekaligus alat bantu atau sarana bagi raga tersebut yang merupakan bekal dari Tuhan bagi setiap manusia hidup yang di ciptakannya.

Meskipun Wujud atau Raga Adam telah di beri bekal empat inti sari alam atau piranti, yang biasa disebut sedulur papat yang berbahan dari empat anasir yang masing-masing memiliki kesaktian dan kemampuan yang luar biasa.

Namun pada saat itu raga Adam masih tetap tergeletak tak bergerak dan masih terbujur kaku tanpa daya dan upaya apapun. Dan pada saat itu Wujud atau Raga Adam disebut sebagai manusia. Yang artinya wujud yang tanpa daya dan upaya apapun.

Setelah itu Tuhan meniupkan napasnya dengan Sabda Kun Faya Kun. Lalu Wujud atau Raga Adam baru bisa bergerak dan bersuara. Berangan-angan, berakal, berdudi pakarti dan berpanca indera.

Dan sejak saat itu juga wujud atau raga Adam diperkenalkan oleh Tuhan pada seluruh alam dan isinya, dengan Sebutan Manusia Hidup yang Bernama ADAM. Yang artinya; “Asal Dumadi Ananing Manungsa” jika ditulis dengan aksara arab, menjadi “ADAMU” yang artinya; “Asal Dumadi Ananing Manungsa Urip”

Dari periwayatan tersebut silahkan anda berpikr sendiri, mana yang seharusnya mempunyai kendali penting dalam kehidupan ini. Apa Sedulur Papat? Apa Pancer? Atau Napas Tuhan yang ditiupkan pada Raga Adam?

Begitulah sekilas Riwayat asa usul Sedulur Papat Kalima Pancer. Yang dicipta dengan bahan sari-sarinya Air. Angin. Api dan Bumi, sebagai Sedulur Papat-nya dan Wujud atau Raga sebagai Pancer-nya.

Debat Sedulur Papat Kalima Pancer

Pada awal mulanya Sedulur Papat ini merupakan Wahyu dalam satu kemasan khusus dari Tuhan, dan keempatnya ini merupakan satu kesatuan yang tak bisa terpisahkan, mereka berempat saling memberi dan menerima secara bergantian, saling bahu membahu, saling asah asih dan asuh.

Mengapa bisa begitu, Karena selain telah di sumpah oleh Tuhan pada saat pertama kali di ciptakan untuk merawat dan membantu wujud/raga yang hidup mereka berempat ini juga diperintah untuk tunduk dan patuh kepada wujud/raga yang hidup.

Sehingga selama berada di dalam alam kandungan/rahim sang ibu hanya ada ketenteraman yang dialaminya, selain tenteram tidak mau ambil pusing, itu sebabnya ketika bayi baru dilahirkan kea lam dunia langsung menjerit dan menangis.

Hal itu dikarenakansang bayi merasa terusik oleh bisingnya dunia fana ini dan takut kehilangan ketenteraman yang selama 9 bulan 10 hari kurang lebihnya telah dinikmatinya tanpa masalah.

Kehidupan Setelah Bayi Dilahirkan

Lalu apa yang terjadi setelah bayi terlahir ke dunia?, semakin lama hari berganti hari, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun demi tahun, bertambah pengalaman, bertambah pengetahui pula, jadi bisa tahu ini dan itu menyebut nama-nama, mereka-reka, merancang, mengarang, menduga dll.

Jadi tahu tentang ilmu, tahu tentang adat, tahu cara bertata krama, tahu harga diri, tahu kehormatan, tahu agama, tahu rukun iman, tahu Tuhan dll.

Dan anehnya Semakin tahu malah semakin pusing, semakin bingung, semakin buta dan tuli, Bahkan semakin hawatir dan takut serta ragu.

Dan yang lebih konyol lagi, semakin Sedulur Papat itu pintar dan pandai serta hebat juga Semakin tersesat jauh keluar dari “ADAM” hingga lupa diri. Jangankan Tuhan. Dirinya sendiri saja bisa Lupa… buktinya, tidak tahu siapa diri kita yang sebenarnya.

Debat Sedulur Papat Kalima Pancer

Saat itu… Aku Sedang Sukses…
Saat itu… Aku Sedang Bangkrut…
Saat itu… Aku Sedang Senang…
Saat itu… Aku Sedang Sedih…
Saat itu… Aku Sedang Pintar…
Saat itu… Aku Sedang Bodoh….
Saat itu… Aku Sedang berTuhan…
Saat itu… Aku Sedang Tidak berTuhan alias Kafir…
Saat itu… Aku Sedang bla… bla… bla…
Inilah yang menjadi jerita awal berdebatnya Sedulur Papat Kalima Pancer.

Percakapan Sedulur Papat Kalima Pancer

1. Mutmainah, yang kejadiannya dari Kawah/Ketuban/air, putih warnanya. Berkata;
Diantara kalian (Sedulur Papat Kalima Pancer ) Aku-lah yang utama karena Aku menjamin, sang jabang bayi bebas bergerak bagaimanapun dan kemanapun.

Hingga seluruh organ tubuhnya bisa terangsang untuk terus tumbuh dengan sangat sempurna.

Aku membantu daya pencernaannya, menguatkan otot, tulang dan raganya, serta menjaga organ pernapasannya agar dapat berkembang dengan leluasa pula.

Aku…sang Mutmainah-lah yang menjadikan ruang istimewa, menghangati sang jabang bayi, sembari mencegah segala macam serang negatif yang membahayakan si jabang bayi, yang hendak melemahkan atau menghancurkan si jabang bayi.

Akupun dengan kompak membuka rahim sang ibu pada saat waktu persalinan/kelahiran tiba, sebagai jalan si jabang bayi agar bisa menengok dunia walau hanya sekejap saja, lantas kita salin ucapakan janji setia, mengabdikan diri, membersihkan jalan itu agar bisa seperti sediakala.

2. Aluamah, yang kejadiannya dari Ari-ari/Sari bumi, hitam warnanya. Berkata;
Ketika si jabang bayi sudah lahir kedunia si jabang keluar bersamaku.

Aku-lah yang mengantarkan hingga si jabang bayi sampai pada tujuan, tanpa pengorbananku yang hebat si jabang bayi tidak akan pernah sampai ke alam dunia dengan selamat.

Aku-lah nahkoda dalam pelayarannya, yang membawa kompas, hingga berhasil kepelabuhan kehidupan dunia ini dengan selamt dan sempurna.

Aku… Aluamah sang anasir kehidupan, hilir mudik dari tubuh bunda kekuasaan si jabang bayi. Dan Aku pula yang menciptakan anasir-anasir itu, jadi. Aku-lah yang paling berjasa dalam Mengukir jiwa raganya.

3. Amarah, yang kejadiannya dari Darah/Api, merah warnanya. Berkata;
Haeeeeee…. Siapa bilang kalian…!!!. Aku-lah yang mempunyai fungsi terpenting dalam tubuh si jabang bayi…!!!

Karena Aku yang mengambil peran utama dalam menyalurkan darah di tubuhnya, sebagai nutrisi dan semua kebutuhan hidup sang jabang bayi…!!!. hanya melalui tangan dan tubuh Aku… semua itu bisa terjadi…!!!

4. Supiyah, yang kejadiannya dari Pusar/Puser/Angin, kuning warnanya. Berkata;
Hi…hi…hi…. Tapi,,,, menurut kalian bertiga siapakah yang menghubungkan jaringan pengikat antara Ari-ari dan si jabang bayi…?

Dan siapa pula yang menjaga kehidupannya ketika masih berada di dalam kandungan ibunya…?. mendukung pertumbuhannya ketika masih berwujud janin/embiyo…?. bukankah itu semua adalah peran ku…?!

Bahkan pembuangan senyawa sisa, pengangkutan mimpi hawa udara, saripati makanan dan minuman, semuanya melalui diriku…!!!.

“Amarah”: Bukan. Aku yang menyuapinya, itu bukti. Aku yang paling utama.
“Mutmainah”: Tidak. Tanpa Aku, dia bisa tersesat, jadi Aku yang utama.
“Aluamah”: Siapa yang melindungi dan menjaga kehangatannya. Aku paling utama.
“Supiyah”: Tidak. Aku yang utama.

“Mutmainah”: Siapa bilang kalian. Aku-lah…!!!.
“Amarah”: Bukan kamu. Aku…!!!.
“Aluamah”: Kamu…? lalu Aku…!!!
“Amarah”: Masa bodoh,,, bangsat…!!!. eh salah, embat…!!!. waduh salah lagi, sikat…!!!.
“Aluamah”: Loh, kamu berani…!!!
“Mutmainah”: Ah…. bedebah kamu…!!!.
“Supiyah”: Asem kecut gulo legi, tak ganyang, tak untal sak endog petarangane kamu…!!!.

Prang Pring Prung Brugg…. Perang saudara tak dapat dihindarkan lagi. Yang Terjadi maka terjadilah.

Jika hal ini tidak segera disadari maka Efeknya pada si Pancer Akan Pusing. Stres. Bingung. Hawatir. Takut. Dsb.

Dari berdebat lanjut jadi saling bakuhantam maka Efeknya pada si Pancer jadi Sakit raganya, lalu masuk rumah sakit raga dan rumah sakit jiwa bahkan bunuh diri, lalu “MATI”.

setelah diadili dan di hakimi di akherat sana sesuai amal perbuatannya di dunia terus jadi arwah penasaran, gentayangan kemana-mana, tanpa arah dan tujuan yang pasti. Naudzu bilahimindzalik.

Sang Pancer pun akhirnya angkat bicara dengan bermilyar-milyar keluhannya setelah semuanya hancur lebur berkeping-keping.

Aduh….!!! Sakit sekali, tak ada umpama apapun yang bisa untuk menggambarkan rasa sakit ini. Sampai kapan ini akan terjadi dan teralami??

Wahai Sang Pemimpin yang menjadikan tubuh ini bisa bergerak dan bersuara, penguasa dan pemegang kendali serta tanggung jawab atas kami berlima, kami bermohon atas kuasamu kepada kami.

Setiap kali rahim bunda berguncang, tolong ikatlah kami erat-erat dengan kuasamu atas diri kami, dan lindungilah kami berlima dengan belaian Cinta Kasih Sayangmu, agar tubuh lunaku ini tak terkoyakan sedikitpun, lalu jagalah kami agar jiwa rapuhku ini tak terganggu sedikitpun.

Wahai sedulur papatku yang dulu selalu setia merawat dan memanjakanku, hanya kalianlah kiblatku, yang menghantarkanku pada kehidupan baru di dunia ini,

tetapi kenapa dan mengapa kini kalian salin berdebat, salin caci maki, salin benci, salin fitnah, iri dan dengki, salin terkam dan bakuhantam, bahkan salin menjatuhkan/membunuh.

Dimana sedulur-sedulurku yang dulu rukun sehati, seiya sekata, kemana sedulur-sedulurku yang dulu senantiasa berdekapan dengan penuh Cinta Kasih Sayang, apakah kalian tidak tahu, bahwa itu semua telah merugikan raga, apakah kalian tidak mengerti, bahwa itu juga telah melukai jiwa,

apakah kalian tidak paham, bahwa itu mempersulit dirimu sendiri dalam mencapai kesempurnaan Hidup dan Kehidupan dunia akherat. Oh…. Sakit… Pedih… Perih… Saaaaakiiiitttttttt….!!!

Duhai para sanak saudara dan para sahabatku sekalian dimanapun berada, begitu situasi dan kondisi Sedulur Papat Kalima Pancer jika tidak mengenal Hidup yang menempati jiwa dan raga kita ini.

Karena yang berkuasa untuk bertanggung jawab atas jiwa dan raga kita ini adalah Hidup atau Roh suci, dan hanya Hiduplah yang memiliki kemampuan bisa.

Jadi yang bisa dan mampu sebenarnya Bukan ilmu, bukan harta atau tahta, apa lagi wanita. Ingat… Hanya Hidup. Bukan yang lain.

Kesetiaan Sedulur Papat Kalima Pancer Saya menyebutnya dengan istilah Manembahing Kawula Gusti, dalam “Iman”.

Kerukunan Sedulur Papat Kalima Pancer. Saya menyebutnya dengan istilah Manunggaling Kawula Gusti, dalam “Iman”.

Kesatuan dan kepaduan Sedulur Papat Kalima Pancer. Saya menyebutnya dengan istilah Leburing Kawula Gusti, dalam “Iman”.

Dan masih ada dua tingkatan dimensi lagi setelah ini. Yaitu; Sampurnaning Kawula Gusti untuk ukuran Dunia dan Sampurnaning Pati Urip untuk ukuran Akheratnya.

“Jangan sekali-kali kita mengaku Manusia Hidup jika tidak bisa merasakan Hidup-nya. Sebab, kalau tidak bisa merasakan Hidup-nya, itu bukan manusia Hidup, tapi,,, mayat Hidup”

“Galilah rasa yang meliputi sekujur tubuhmu, karena di dalam tubuhmu ada Firman Tuhan yang bisa menjamin hidup mati dan dunia akheratmu”

“Kenalilah dirimu dengan baik terlebih dulu, sebelum engkau mengenaliku” . “Sesungguhnya Aku berada dekat, bahkan lebih dekat dari urat lehermu”.

Add Comment